<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>BPS &#8211; Himpunan Mahasiswa Statistika</title>
	<atom:link href="https://himasta.unisba.ac.id/tag/bps/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://himasta.unisba.ac.id</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Mon, 20 Jun 2022 14:06:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://himasta.unisba.ac.id/wp-content/uploads/2026/01/cropped-logo_himasta-e1639643156604-32x32.png</url>
	<title>BPS &#8211; Himpunan Mahasiswa Statistika</title>
	<link>https://himasta.unisba.ac.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">211238044</site>	<item>
		<title>Kelompok 2 : Ketimpangan Gender, Separah Apakah dalam Industri Pekerjaan di Indonesia?</title>
		<link>https://himasta.unisba.ac.id/2022/06/20/kelompok-2-ikigai/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Humas Himasta]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Jun 2022 14:04:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[IKIGAI]]></category>
		<category><![CDATA[BPS]]></category>
		<category><![CDATA[FMIPA UNISBA]]></category>
		<category><![CDATA[Gender]]></category>
		<category><![CDATA[Gender Gap Index]]></category>
		<category><![CDATA[himasta unisba]]></category>
		<category><![CDATA[Industri Pekerjaan]]></category>
		<category><![CDATA[Statistika]]></category>
		<category><![CDATA[unisba]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://himasta.unisba.ac.id/?p=21572</guid>

					<description><![CDATA[KETIMPANGAN GENDER, SEPARAH APAKAH DALAM INDUSTRI PEKERJAAN di INDONESIA? Kestabilan ekonomi Indonesia ternyata tidak diiringi dengan pemberian kesempatan yang sama pada setiap warga negara. Berdasarkan laporan World Economic Forum, Indonesia masih terdapat ketimpangan gender di tahun 2021. Berdasarkan laporan tersebut, Indonesia memiliki gender Gap index sebesar 0,688. Indeks tersebut besarnya 1 maka hak antara perempuan&#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><b>KETIMPANGAN GENDER, SEPARAH APAKAH DALAM INDUSTRI PEKERJAAN di INDONESIA?</b></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-weight: 400;">Kestabilan ekonomi Indonesia ternyata tidak diiringi dengan pemberian kesempatan yang sama pada setiap warga negara. Berdasarkan laporan World Economic Forum, Indonesia masih terdapat ketimpangan gender di tahun 2021. Berdasarkan laporan tersebut, Indonesia memiliki gender Gap index sebesar 0,688. Indeks tersebut besarnya 1 maka hak antara perempuan dan laki-laki di suatu negara seimbang. Demikian, di Indonesia masih ada ketimpangan hak antara gender karena masih di bawah 1.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-weight: 400;">Gender Gap Index Indonesia masi sedikit lebih baik dibandingkan rata-rata Gender Gap Index dunia yang sebesar 0,677. Indeks Pemberdayaan Gender dan Indeks Pembangunan Gender yang dihitung Badan Pusat Statistik(BPS) terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Untuk Indeks Pembangunan Gender 91,27 dan Indeks Pemberdayaan Gender 76,26 pada 2021. Semakin mendekati 100 maka kesenjangan semakin kecil. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-weight: 400;">Di ASEAN Indonesia menempati posisi yang rendah yaiu dibawah Fhilipina, Brunei, Laos, Thailand, dan Singapura. Berdasarkan laporan Oliver Wyman, hanya 18 persen  perempuan Indonesia yang menempati tingkat komite eksekutif di Lembaga keuangan, angka tersebut lebih rendah dibandingkan rata-rata dunia. Jumlah pekerja perempuan di sektor keuangan hanya 39,5 persen. Artinya, laki-laki lebih mendominasi dibandingkan perempuan dalam sektor keuangan.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-weight: 400;">Tidak hanya kalah jumlah, pekerja perempuan di sektor keuangan hanya 12 persen yang memiliki keahlian, angka tersebut hanya separuh dari laki-laki yang memiliki keahlian sebesar 28 persen. Tingkat inklusi keuangan laki-laki lebih tinggi dibandigkan perempuan, dimana laki-laki mencapai 40 persen sedangkan perempuan 36 persen. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-weight: 400;">Ketimpangan gender sering terjadi di seluruh aspek kehidupan, hal ini merupakan fakta meskipun ada kemajuan di beberapa bidang. Tingkat diskriminasi setiap negara itu berbeda-beda. Perempuan memiliki dampak paling besar akibat ketidaksetaraan, padahal pada dasarnya ketidaksetaraan itu memberikan banyak dampak negatif bagi banyak orang. Oleh karena itu, kesetaraan gender harus dicapai karena ia memiliki nilai tersendiri yaitu mampu meningkatkan perkembangan negara.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-weight: 400;">Pembangunan ekonomi mampu meningkatkan kesetaraan gender dalam jangka Panjang. Oleh karena itu, untuk mencapai kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan kita harus mengakhiri segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan, menjamin seluruh aspek kesehatan seksual sesuai dengan Programme of Action of the International Conference on Population and Development and the Beijing Platform, mencegah pernikahan dini, serta memberikan kesempatan yang sama bagi perempuan  untuk memimpin dalam bidang sosial, politik, dan ekonomi.</span></p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">21572</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Kelompok 4 : MIRIS! Tingginya Rasio Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir</title>
		<link>https://himasta.unisba.ac.id/2022/06/18/kelompok-4-miris-tingginya-rasio-kematian-ibu-dan-bayi-baru-lahir/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Humas Himasta]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 18 Jun 2022 05:26:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[IKIGAI]]></category>
		<category><![CDATA[BPS]]></category>
		<category><![CDATA[FMIPA UNISBA]]></category>
		<category><![CDATA[himasta unisba]]></category>
		<category><![CDATA[SDGs]]></category>
		<category><![CDATA[Statistika]]></category>
		<category><![CDATA[unisba]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://himasta.unisba.ac.id/?p=21526</guid>

					<description><![CDATA[MIRIS! Tingginya Rasio Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir Bandung &#8211; PBB menciptakan suatu rencana aksi global yaitu Sustainable Development Goals (SDGs) untuk mengakhiri kemiskinan, kesenjangan, dan melindungi lingkungan. Indonesia menjadi salah satu negara yang ikut serta dalam aksi tujuan pembangunan berkelanjutan. Sustainable Development Goals (SDGs) memiliki 17 tujuan, salah satunya yaitu Kehidupan Sehat dan&#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>MIRIS! Tingginya Rasio Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bandung &#8211; PBB menciptakan suatu rencana aksi global yaitu Sustainable Development Goals (SDGs) untuk mengakhiri kemiskinan, kesenjangan, dan melindungi lingkungan. Indonesia menjadi salah satu negara yang ikut serta dalam aksi tujuan pembangunan berkelanjutan. Sustainable Development Goals (SDGs) memiliki 17 tujuan, salah satunya yaitu Kehidupan Sehat dan Sejahtera.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk menciptakan kehidupan sehat dan sejahtera, terdapat beberapa target yang harus dicapai, salah satunya yaitu mengurangi rasio angka kematian ibu dan mengakhiri angka kematian bayi baru lahir dan balita. Target dari Bappenas itu sendiri yaitu pada tahun 2030, mengurangi rasio angka kematian ibu hingga kurang dari 70 per 100.000 kelahiran hidup dan mengakhiri kematian bayi baru lahir dan balita yang dapat dicegah, dengan seluruh negara berusaha menurunkan Angka Kematian Neonatal setidaknya hingga 12 per 1000 KH (Kelahiran Hidup) dan Angka Kematian Balita 25 per 1000. Namun, sampai saat ini angka kematian ibu dan bayi baru lahir masih saja tinggi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Di Indonesia, angka kematian ibu dari data tahun 2015 dari susenas masih cukup tinggi dengan 305 per 100.000 penduduk dan angka kematian bayi pada tahun 2017 sebesar 24 per 1.000 kelahiran hidup,&#8221; ujar Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo.</p>
<p style="text-align: justify;">“Indonesia masih memiliki angka kematian ibu (AKI) yang tinggi yakni 305 per 100.000 kelahiran hidup berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) terakhir yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2015.” tulis BKKBN dalam laman website resmi kalurahan sendangsari, Senin (27/12/2021)</p>
<p style="text-align: justify;">Ketua Evidence Summit, Prof DR dr Akmal Taher, SpU (K) mengatakan, bahwa pemicu tingginya angka kematian ibu dan bayi baru lahir di Indonesia yakni kualitas pelayanan kesehatan, sistem rujukan kesehatan, implementasi Jaminan Kesehatan Nasional, dan kebijakan pemerintah daerah terkait kesehatan. Selain faktor tersebut, terdapat pula faktor budaya di mana ketimpangan gender masih menjadi permasalahan saat perempuan ingin bersalin. Beberapa daerah di Indonesia bahkan masih memegang prinsip bahwa perempuan tidak berhak menentukan sendiri proses persalinannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemenkes memberikan suatu upaya untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi baru lahir dengan cara,</p>
<p style="text-align: justify;">1. Petugas kesehatan diperbanyak di daerah terpencil yang kemampuan pelayanannya masih dirasa kurang.<br />
2. Menyempurnakan sarana dan prasarana yang ada di fasilitas kesehatan. Baik fasilitas kesehatan dasar atau rujukan.<br />
3. Obat-obatan akan dipersiapkan dalam satu kesatuan dengan sistem layanan kesehatan.<br />
4. Meningkatkan pemahaman dan memberikan sosialisai kepada masyarakat tentang kehamilan.<br />
5. Memperbaharui riset-riset operasional atau litbang secara sederhana.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber :</p>
<p><a href="https://sains.kompas.com/read/2018/03/28/203300723/angka-kematian-ibu-dan-bayi-di-indonesia-tinggi-riset-ungkap-sebabnya">https://sains.kompas.com/read/2018/03/28/203300723/angka-kematian-ibu-dan-bayi-di-indonesia-tinggi-riset-ungkap-sebabnya</a></p>
<p><strong>Kelompok 4</strong><br />
Nama Anggota:</p>
<p style="padding-left: 40px;">Felisha Salsabila (10060121009)<br />
Annisa Aryanti Utami (10060121015)<br />
Anindya Nurul Fuadiah (10060121023)<br />
Mufdhil Afta Zhahirulhaq (10060121029)<br />
Kinanti Putri Kirana (10060121037)<br />
Amanda Devanti Prameswari (10060121040)<br />
Meilin Syabrinah (10060121052)<br />
Rosyida Aurelia Fitri Riayah (10060121060)<br />
Bilqis Nur Rizkia (10060121065)<br />
Helmi Tareq Alhamdi (10060121079)<br />
Allif Baina Nur &#8216;Ilman (10060121089)</p>
<p>Tema: Kehidupan Sehat dan Sejahtera</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">21526</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
